Thursday, August 23, 2007 | 12:26 PM | posted by tiR shabrina

ngerii. itulah yang ada di pikiran tiR ketika seorang kakak kelas tiR yang sama² anggota milis ikatan alumni PPMI Assalaam, memberitahukan klo Ass masuk media cetak -lagi- . ya, dan ini kembali berita buruk. terlalu buruk malah menurut tiR.

Kasus IPDN Terulang di Assalaam Solo
Rabu, 22/08/2007


Kasus penganiayaan oleh senior terhadap yunior di Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) terulang di Ponpes Assalaam Solo. Kasus ini sedang diselidiki polisi.

SUKOHARJO(SINDO) - Kasus penganiayaan oleh senior terhadap yunior di Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) terulang di Ponpes Assalaam Solo. Kasus ini sedang diselidiki polisi.

Kejadian di Pondok Pesantren Modern Islam (PPMI) Assalaam, Pabelan, Kartasura, Sukoharjo ini, mengakibatkan dua santri Takhasus (TKS) -kelas transisi sebelum masuk tingkat SMA- masuk rumah sakit (RS) setelah sebelumnya muntah darah. Dua santri tersebut yakni Deri Saputra, 15, asal Baturaja Timur, Kab Ogan Komering Ulu, Sumsel, dan I Wayan Mahardika, 15, asal Bali.

Saat ini, keduanya dirawat di Bangsal Bougenvile No 5 RS Panti Waluyo Solo. Sebelumnya, kasus itu telah dilaporkan ke Polsek Kartasura. Kepada SINDO, Deri dan Wayan menuturkan, keduanya dianiaya layaknya kasus di IPDN Sumedang, Jabar. Deri mengaku disekap dalam kamar tidur yang gelap dan dipukuli dua seniornya kelas I SMK Assalaam.

"Saya dan Wayan dipukul dengan rotan di paha dan ditonjok di bagian dada," jelas Deri sembari terbaring di RS, kemarin. Deri dan Wayan merupakan teman satu angkatan. Deri di kelas TKS A dan Wayan di TKS B. Namun, keduanya di ruang tidur yang sama No 33.Kelas TKS dengan lama pendidikan satu tahun untuk memperdalam bahasa Arab.

Menurut Deri, sebelum dirinya dipukuli, para santri senior mengatakan melakukan balas dendam karena dulu juga pernah dipukuli senior kakak kelas. Selain itu, dua pelaku penganiayaan masing-masing Adib Bayu dan Dody merasa tidak senang dengan keduanya karena sering mengadu pada ustadz.

"Semua siswa TKS di dua kelas pernah dipukuli oleh kakak kelas. Jumlah siswanya saat ini ada 64 di dua kelas TKS itu," jelas Deri. Menurut dia, pada Jumat (17/8) malam sekitar pukul 23.00 WIB, ruang tidur No 33 didatangi sekitar sembilan senior. Kamar tidur itu berjumlah 18 siswa.Deri dan Wayan disuruh tinggal di dalam ruangan sementara santri lainnya disuruh keluar.

Selain itu, dua santri lain Fikri di ruang 32 dan Faizal dari ruang 34 juga ikut dimasukkan. Dalam kamar yang gelap itu, empat santri yunior dianiaya layaknya kasus penganiayaan di IPDN. Deri dan Wayan mengaku dipukul dengan rotan di paha. Selain itu, dadanya ditendang dan ditonjok hingga akhirnya muntah darah sehari setelah dihajar.

"Saat dipukul lampu dimatikan. Kami disuruh dalam posisi kuda-kuda dan dipukuli sekitar 2,5 jam sambil diomeli dan diancam," terang Wayan. Menurut keduanya, pemukulan tersebut sudah sering terjadi di lembaga pendidikan pencetak santri tersebut. Namun, baru Jumat malam itu, pemukulan dilakukan secara membabi buta.

Penganiayaan baru berhenti setelah keduanya roboh karena kesakitan. Setelah itu, senior lainnya memberi bantuan dengan memijit bagian yang sakit sembari memberi minum. Saat dua senior melakukan penganiayaan kepada keduanya, kakak kelas lainnya memukul santri yang lain.Setelah pemukulan selesai, santri lain disuruh masuk kembali ke dalam kamar tidur sembari ditonjok.

Mendapat perlakukan tersebut, Deri,Wayan, dan santri lain Arnold Widi memutuskan untuk kabur dari asrama. Ketiganya kabur pada Sabtu (18/8) pukul 16.30 WIB dengan berjalan kaki hingga depan Solo Grand Mall (SGM) untuk naik taksi.Ketiganya menempuh jarak sekitar 5 km dengan jalan kaki. Mereka bertiga naik taksi dengan tujuan rumah budhe Deri di Gedongan, Pepe, Colomadu, Karanganyar, dan sampai sekitar pukul 22.00 WIB.

Deri maupun Wayan langsung muntah darah di tempat itu. Siti Susilowati, 36, budhe Deri, langsung panik dan melaporkan kejadian itu pada orangtua Deri di Baturaja Timur. Waktu itu, keduanya tidak mau dibawa ke rumah sakit sebelum orangtuanya tiba. Kedua orangtua Deri, Supriyatin dan Heriyani menggunakan mobil datang ke Solo. Dari Baturaja pada Minggu (19/8) pukul 14.00 WIB dan tiba di Solo Senin (20/8) pukul 20.00 WIB.

Setelah itu, kasus tersebut dilaporkan ke Polsek Kartasura. Setelah lapor,keduanya lantas dibawa ke RS Islam Surakarta (RSIS) untuk dilakukan visum. Di tempat terpisah, Kapolsek Kartasura AKP Setyo Budi Utomo ketika dikonfirmasi membenarkan laporan itu. Menurut dia, ada tiga santri PPMI Assalaam yang melapor. Masing-masing Deri Saputra,I Wayan Mahardika,dan Arnold Widi.

"Kami sudah menerima laporannya dan sedang melakukan penyelidikan. Pelaku juga sedang kami periksa,"jelas Kapolsek.Dia juga mengatakan, kemarin sudah dilakukan pertemuan antara korban, wali siswa, dan pihak Assalaam. Pertemuan itu dilakukan dalam upaya penyelesaian secara kekeluargaan namun belum berhasil.

=Tempuh Jalur Hukum=

Orangtua para santri korban penganiyaan di PPMI Assalaam tidak terima atas kejadian yang dialami sang anak. Mereka menilai pemukulan tersebut sudah di luar batas kewajaran karena menyebabkan santri muntah darah. "Ini harus diselesaikan melalui jalur hukum. Kalau anak saya mati bagaimana?" tegas Heriyani, ibu Deri Saputra di RS Panti Waluyo, kemarin.

Dia mengungkapkan, begitu mendapat kabar dari saudaranya di Colomadu, bersama suaminya langsung meluncur ke Solo. Begitu tiba langsung melapor ke Polsek Kartasura agar kasus tersebut segera diproses hukum. Dia menilai perlakuan para senior santri PPMI Assalaam sudah di luar batas.Apalagi, kasus itu terjadi di sebuah pesantren terpandang.

Menurut Heriyani, dalam pertemuan di Mapolsek, ada sejumlah ustadz PPMI Assalaam yang datang. Dalam kesempatan itu, para ustadz terkesan membela para pelaku penganiayaan. Mereka tidak senang kasus itu langsung dilaporkan ke polisi, tidak ke pihak pondok pesantren terlebih dahulu. Sebagai orangtua santri, ujarnya, dia tidak terima dengan perlakuan itu.Wali siswa lainnya juga menyatakan hal senada.

Bahkan, dari informasi yang dia terima penganiayaan santri senior pada yunior sudah menjadi tradisi di PPMI Assalaam tersebut. "Sudah jelas tahu ada kasus seperti itu, kok pihak pesantren tidak mengambil tindakan. Saat anak saya kabur juga tidak ada perhatian," jelasnya penuh emosi.

Dia mengatakan, dirinya memercayakan anaknya menuntut ilmu di PPMI Assalaam dengan harapan anaknya menjadi anak saleh. Namun, yang diterima justru pemukulan dan penganiayaan. Secara khusus Heriyani juga mengaku tidak senang dengan Dody -salah satu pelaku. Saat pertemuan di Mapolsek, santri kelas I SMK Assalaam itu terlihat tidak ada rasa bersalah.

Sementara itu kondisi kedua korban terlihat sudah membaik meski masih terpasang selang infus. Seusai melakukan pemeriksaan terhadap korban, kemarin, dr Samuel SpB mengatakan kondisi keduanya semakin membaik. Namun, masih diperlukan sejumlah tes laboratorium.

=Assalaam Upayakan Damai=

Sementara itu Ketua Asrama PPMI Assalaam Ustadz Nanang Zaenudin ketika dikonfirmasi via telepon membenarkan kejadian tersebut. Dia menuturkan, saat ini sedang dilakukan upaya penyelesaian secara kekeluargaan. "Sedang diusahakan upaya damai, namun wali siswa bersikeras menempuh jalur hukum," jelasnya, tadi malam.

Dia mengatakan, pihak wali siswa memilih jalur hukum serta menuntut pelaku penganiayaan dikeluarkan dari pesantren. Selain itu wali siswa juga menuntut ganti rugi selama menempuh pendidikan di PPMI Assalaam. Ustadz Nanang kembali mengatakan, pihaknya tengah mencoba upaya damai terkait tuntutan itu. Dia juga mengaku sementara ini dua santri pelaku penganiayaan diperiksa di Mapolsek Kartasura.

Disinggung tentang tujuh santri pelaku lain,Ustadz Nanang mengaku belum tahu. Saat ini, ujarnya, baru dua pelaku yang dimintai keterangan petugas kepolisian. Ketika ditanya kasus serupa sebelumnya, dia mengatakan memang pernah terjadi namun bisa diselesaikan secara kekeluargaan.

Selain itu tidak sampai dilaporkan ke rumah sakit. Soal tradisi penggojlokan secara fisik, Nanang mengaku selama ini memang sering terjadi.Namun, dia mengaku tidak sekeras seperti yang dialami dua santri Deri dan Wayan. "Saya sudah wanti-wanti (mengingatkan) pada santri untuk tidak terlalu keras. Mungkin santri lupa sehingga kasus ini bisa terjadi," jelasnya. Dia menambahkan, sebenarnya santri Deri yang dipukul selama ini dikenal agak nakal.

Sebelum masuk PPMI Assalaam, Deri merupakan santri di sebuah ponpes di Bandung. Dia dikeluarkan dari ponpes tersebut karena kenakalannya dan akhirnya masuk Assalaam. Menurut Nanang, Deri sering membuat masalah dan dia menduga santri kakak kelas merasa jengkel sehingga melakukan pemukulan tersebut. PPMI Assalaam sendiri saat ini dimiliki Yayasan Majelis Pengajian Islam Surakarta. (sumarno)

Labels:

0 comments //Post a Comment


--- ----- -- --- ----- ---- - -- -- ---- -- - - --- -- - - - ---- -- -- ----- -- ------ - ---- ---- -- - ---
© www.akarserabut.com